Warning: Parameter 1 to plgContentBotphp_content::onAfterDisplayTitle() expected to be a reference, value given in /home/dwisso67/public_html/libraries/joomla/event/event.php on line 68
| Imlek, Dulu dan Sekarang |
| Written by madmax | |
| Tuesday, 27 January 2009 15:37 | |
Tahun baru Imlek 2560 yang jatuh pada tanggal 26 Januari 2009 Masehi. Penaggalan Imlek di mulai pada 2637 SM sewaktu Kaisar Oet Tee / Huang Ti (2698-2598 SM) mengeluarkan siklus pertama pada tahun ke 61 pemerintahannya.Imlek atau Sin Tjia merupakan sebuah perayaan yang dilakukan oleh para petani di Cina yang biasanya jatuh pada tanggal satu di bulan pertama di awal tahun baru. Perayaan ini juga berkaitan dengan pesta para petani untuk menyambut musim semi. Perayaan ini dimulai pada tanggal 30 bulan ke-12 dan berakhir pada tanggal 15 bulan pertama. Acaranya meliputi sembahyang Imlek, sembahyang kepada Sang Pencipta, dan perayaan Cap Go Meh. Tujuan dari persembahyangan ini adalah sebagai wujud syukur dan doa harapan agar di tahun depan mendapat rezeki lebih banyak, untuk menjamu leluhur, dan sebagai sarana silaturahmi dengan kerabat dan tetangga. Karena perayaan Imlek berasal dari kebudayaan petani, maka segala bentuk persembahannya adalah berupa berbagai jenis makanan. Idealnya, pada setiap acara sembahyang Imlek disajikan minimal 12 macam masakan dan 12 macam kue yang mewakili lambang-lambang shio yang berjumlah 12. Di Cina, hidangan yang wajib adalah mie panjang umur (siu mi) dan arak. Di Indonesia, hidangan yang dipilih biasanya hidangan yang mempunyai arti "kemakmuran," "panjang umur," "keselamatan," atau "kebahagiaan," dan merupakan hidangan kesukaan para leluhur. Kue-kue yang dihidangkan biasanya lebih manis daripada biasanya. Diharapkan, kehidupan di tahun mendatang menjadi lebih manis. Di samping itu dihidangkan pula kue lapis sebagai perlambang rezeki yang berlapis-lapis. Kue mangkok dan kue keranjang juga merupakan makanan yang wajib dihidangkan pada waktu persembahyangan menyambut datangnya tahun baru Imlek. Biasanya kue keranjang disusun ke atas dengan kue mangkok berwarna merah di bagian atasnya. Ini adalah sebagai simbol kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok. Ada juga makanan yang dihindari dan tidak dihidangkan, misalnya bubur. Bubur tidak dihidangkan karena makanan ini melambangkan kemiskinan. Kedua belas hidangan itu lalu disusun di meja sembahyang yang bagian depannya digantungi dengan kain khusus yang biasanya bergambar naga berwarna merah. Pemilik rumah lalu berdoa memanggil para leluhurnya untuk menyantap hidangan yang disuguhkan. Di malam tahun baru orang-orang biasanya bersantap di rumah atau di restoran. Setelah selesai makan malam mereka bergadang semalam suntuk dengan pintu rumah dibuka lebar-lebar agar rezeki bisa masuk ke rumah dengan leluasa. Pada waktu ini disediakan camilan khas Imlek berupa kuaci, kacang, dan permen. Pada waktu Imlek, makanan yang tidak boleh dilupakan adalah lapis legit, kue nastar, kue semprit, kue mawar, serta manisan kolang-kaling. Agar pikiran menjadi jernih, disediakan agar-agar yang dicetak seperti bintang sebagai simbol kehidupan yang terang. Tujuh hari sesudah Imlek dilakukan persembahyangan kepada Sang Pencipta. Tujuannya adalah sujud kepadaNya dan memohon kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru dimasuki. Lima belas hari sesudah Imlek dilakukan sebuah perayaan yang disebut dengan Cap Go Meh. Masyarakat keturunan Cina di Semarang merayakannya dengan menyuguhkan lontong Cap Go Meh yang terdiri dari lontong, opor ayam, lodeh terung, telur pindang, sate abing, dan sambal docang. Sementara di Jakarta, menunya adalah lontong, sayur godog, telur pindang, dan bubuk kedelai. Pada waktu perayaan Imlek juga dirayakan berbagai macam keramaian yang menyuguhkan atraksi barongsai dan kembang api. Imlek yang semula dirayakan oleh suku bangsa ysng berlatar belakang budaya Tingkok namun dalam perkembangannya Mongol, Korea, Jepang, Vietnam, Laos, dan Kamboja juga ikut merayakannya. Di Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari etnis Tionghoa. Pada masa penjajahan Belanda pernah dilarang untuk dirayakan Imlek Di Indonesia Di Indonesia pada masa penjajahan Belanda Imlek pernah dilarang untuk dirayakan, kemudian pada mada masa penjajahan Jepang Imlek menjadi hari libur resmi berdasarkan keputusan Osamu Seiri No. 26 tanggal 1 Agustus 1942. Itulah kali pertama dalam sejarah Tionghoa di Indonesia Imlek menjadi hari libur, yaitu pada tahun 1943 Masehi. Pada era Preisiden Soekarno mulai tahun 1945 -1964, Imlek boleh dirayakan, namun pada era Soeharto selama 1965-1998, perayaan tahun baru Imlek dilarang dirayakan. Dengan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, rezim Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, melarang segala hal yang berbau Tionghoa, keagamaan, kepercayaan, dan adat istiadat termasuk Imlek. Masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia kembali mendapatkan kebebasan merayakan tahun baru Imlek pada tahun 2000 ketika Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres Nomor 14/1967. Kemudian Presiden Megawati Soekarnoputri menindaklanjutinya dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19/2002 tertanggal 9 April 2002 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur nasional dan mulai 2003, Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional. Pada era Susilo Bambang Yudoyono, berhembus angin segar bahwa etnis Tionghoa sungguh diterima sebagai bagian intregral bangsa Indonesia. Tidak saja bebas merayakan Imlek tetapi ada regulasi yang menjamin kesetaraan etnis Tionghoa dengan anak bangsa yang lain. Dalam UU No. 12 tahun 2006 tentang Kewarganegaraan dijelaskan bahwa tidak ada sekat-sekat lagi antara pribumi dan non pribumi. Dan pada peringan Sumpah Pemuda 28 Oktober 2008 kemarin telah diresmikan UU Anti diskriminasi ras dan etnis yang semakin mengukuhkan persamaan hak dan kewajiban warga negara Indonesia. GONG XI FAT CHAI |
Mad Max

Tahun baru Imlek 2560 yang jatuh pada tanggal 26 Januari 2009 Masehi. Penaggalan Imlek di mulai pada 2637 SM sewaktu Kaisar Oet Tee / Huang Ti (2698-2598 SM) mengeluarkan siklus pertama pada tahun ke 61 pemerintahannya.












